Sabtu, 06 April 2013

MENGENAL IKAN SIDAT


Ikan sidat adalah ikan yang menyerupai ikan belut. Sidat mempunyai bentuk yang memanjang seperti ular, tidak mempunyai sirip perut dan punggung tidak berduri. Sisik pada ikan sidat berbentuk kecil membujur. Sirip dada sempurna, mata tertutup oleh kulit. Lubang hidung terletak di muka mata, mulut agak miring dan sampai melewati mata. Yang membedakannya dengan ikan belut, yaitu keberadaan sirip dada yang relatif kecil dan terletak tepat di belakang kepala sehingga mirip seperti daun telinga sehingga ikan sidat disebut juga sebagai belut bertelinga.

Menurut Nelson (1994) ikan sidat diklasifikasikan sebagai berikut:
  • Filum : Chordata
  • Kelas : Actinopterygii
  • Subkelas : Neopterygii
  • Division : Teleostei
  • Ordo : Anguilliformes
  • Famili : Anguillidae
  • Genus : Anguilla
  • Species : Anguilla spp

Panjang tubuh ikan sidat bervariasi tergantung jenisnya yaitu antara 50-125 cm. Bentuk tubuh yang memanjang seperti ular memudahkan bagi sidat untuk berenang di antara celah-celah sempit dan lubang di dasar perairan. Ketiga siripnya yang meliputi sirip punggung, sirip dubur dan sirip ekor menyatu. Terdapat sisik sangat kecil yang terletak di bawah kulit pada sisi lateral. Perbedaan diantara jenis ikan sidat dapat dilihat antara lain dari perbandingan antara panjang preanal (sebelum sirip dubur) dan predorsal (sebelum sirip punggung), struktur gigi pada rahang atas, bentuk kepala dan jumlah tulang belakang.

Sidat merupakan ikan yang tinggal di dasar perairan. Jenis-jenis ikan tersebut menyebar di daerah-daerah yang berbatasan dengan laut dalam. Di perairan daratan (inland water) ikan sidat hidup di perairan estuaria (laguna) dan perairan tawar (sungai, rawa dan danau) dataran rendah hingga dataran tinggi. Jenis ikan sidat yang terdapat di perairan Indonesia paling sedikit memiliki enam jenis ikan sidat yakni: Anguilla mormorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla bicolor pacifica. Ikan sidat banyak ditemukan di daerah-daerah yang berbatasan dengan laut dalam seperti pantai selatan Pulau Jawa, pantai barat Sumatera, pantai timur Kalimantan, pantai Sulawesi, pantai kepulauan Maluku dan Irian Barat.

Menurut Facey dan Avle (1987) dalam Ndobe (1994), tahap-tahap siklus hidup ikan sidat yang dikenal dengan beberapa nama umum yaitu : larva (leptocephalus), sidat kaca (glass eel), elver, sidat kuning (yellow eel) dan sidat perak (silver eel). Ikan sidat termasuk katadromous, aktif mencari makan di malam hari (nocturnal) dan hidup di perairan tawar kemudian bermigrasi (ruaya) ke laut dalam untuk melakukan pemijahan.

Ikan sidat di alam hidup bergerombol dan cenderung berada di dasar perairan. Post larva ikan sidat cenderung sebagai penghuni dasar perairan dan bersembunyi di dalam lubang, terowongan, potongan-potongan tanaman atau substrat lain sebagai pelindung (Facey dan Avyle, 1987 dalam Sholeh, 2004). Tingkah laku ini mencerminkan kebiasaan makan, strategi dalam menghindari predator dan pengaruh penangkapan.

Ikan sidat adalah jenis ikan yang tidak menyukai cahaya kuat dan merupakan ikan dasar yang suka bernaung khususnya pada waktu siang hari ketika cahaya matahari menembus sampai ke dasar sungai. Menurut Usui, (1974) dalam Sholeh, (2004), sidat aktif berenang pada malam hari tetapi ketika siang hari sidat akan bersembunyi di bawah onggokan tanah atau di bawah bebatuan.

Ikan sidat memiliki kandungan vitamin yang tinggi. Hati ikan sidat memiliki 15.000 IU/100 gram kandungan vitamin A. Lebih tinggi dari kandungan vitamin A mentega yang hanya mencapai 1.900 IU/100 gram. Bahkan kandungan DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 gram atau tenggiri 748 mg/100 gram. Sementara kandungan EPA ikan sidat mencapai 742 mg/100 gram, jauh di atas ikan salmon yang hanya 492 mg/100 gram dan tenggiri yang hanya 409 mg/100 gram.

Perkembangan budidaya Sidat di Indonesia masih mengalami banyak kendala. Hal ini disebabkan karena sulitnya mendapatkan benih ikan sidat. Pembudidayaan ikan sidat di beberapa daerah masih mengandalkan benih dari alam sehingga pembudidayaannya sangat bergantung pada ketersediaan benih yang ada di alam.

Secara nasional perkembangan budidaya ikan sidat hanya terdapat di beberapa provinsi saja. Berdasarkan data statistic perikanan budidaya hanya daerah pulau jawa saja yang mengembangkan budidaya ikan sidat. Itu pun tidak semua provinsi. Data terakhir menunjukkan Jawa Timur sebagai penghasil ikan sidat terbesar di Indonesia dengan total produksinya pada tahun 2009 sebesar 1.308 ton. Melihat potensi yang sangat besar seharusnya budidaya sidat dapat berkembang dengan baik. Apalagi beberapa Negara seperti Jepang, Hongkong, Belanda, Jerman, Italia dan beberapa negara lain sangat menyukai ikan belut bertelinga ini. Harganya di pasaran dapat mencapai sebesar Rp. 100.000 – Rp. 300.000.

Agar budidaya sidat dapat berhasil ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membudidayakan ikan sidat antara lain, yaitu :

1. Suhu.
Pada pemeliharaan benih Ikan Sidat lokal, A. bicolor bicolor, suhu terbaik untuk memacu pertumbuhan adalah 29°C.

2. Salinitas.
Pada pemeliharaan Ikan Sidat lokal, A. bicolor bicolor (elver), salinitas yang dapat memberikan pertumbuhan yang baik adalah 6 – 7 ppt.

3. Oksigen Terlarut.
Kandungan oksigen minimal yang dapat ditolelir oleh Ikan Sidat berkisar antara 0,5 – 2,5 ppm.

4. pH.
pH optimal untuk pertumbuhan Ikan Sidat adalah 7 – 8.

5. Amonia (N H3- N) dan Nitrit (NO2-N).
Pada konsentrasi amonia 20 ppm sebagian Ikan Sidat yang dipelihara mengalami methemoglobinemie dan pada konsentrasi 30 – 40 ppm seluruh Ikan Sidat mengalami methemoglobinemie.

6. Kebutuhan nutrient.
Seperti halnya jenis ikan-ikan lain, Ikan Sidat membutuhkan zat gizi berupa protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Kadar protein pakan optimal adalah 45% untuk ikan bestir (juvenil) dan sekitar 50% untuk ikan kecil (fingerling).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label