Tampilkan postingan dengan label TANAMAN PANGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TANAMAN PANGAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 September 2012

Teknologi TOT (Tanpa Olah Tanah) Jagung

Sumber Gambar: http://www.google.co.id
Sulawesi selatan termasuk salah satu wilayah pengembangan jagung Nasional dan pemasok kebutuhan jagung di Indonesia. Daerah ini memiliki dua agroekosistem yaitu lahan kering seluas 913.446 Ha dan lahan sawah tadah hujan seluas 239.171 Ha. Pengembangan jagung lahan kering umumnya dilakukan pada musim hujan, sehingga produktivitas tidak seoptimal apabila dilakukan pada musim kemarau di lahan sawah tadah hujan. Penyebabnya adalah intensitas penyinaran matahari dan jumlah debit air pada setiap fase yang berbeda terhadap pertanaman jagung. BPTP Sulawesi Selatan mengintroduksikan pertanaman jagung dengan teknologi TOT yang diawali pada tahun 2005 di kabupaten Jeneponto yang memiliki curah hujan hanya sekitar 3-5 bulan/tahun.

Implementasi dan inovasi teknologi ini memberikan dampak pada peningkatan indeks pertanaman (IP) jagung. Pemanfaatan lahan sawah tadah hujan umumnya rata-rata hanya satu kali sampai dua kali (padi rendengan dan padi MK I), setelah itu lahan dibiarkan bero sehingga peluang keberhasilan hanya dapat ditempuh melalui pertanaman jagung dengan sistem TOT pada lahan sawah tadah hujan. Penerapan teknologi pertanaman jagung sistem TOT pada lahan sawah tadah hujan dapat meningkatkan indeks pertanaman dari (100 dan 200) menjadi (200 dan 300). Teknologi budidaya jagung cara TOT di hamparan pertanaman padi rendengan di kabupaten Jeneponto memberikan hasil optimal dibanding pertanaman padi yang mengolah tanah sempurna.

Pemerintah Daerah Jeneponto memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap teknologi TOT pada budidaya jagung karena petani memperoleh pendapatan dari usahatani jagung sebesar Rp 10.000.000/ha/satu kali panen. Sedang penerapan budidaya jagung cara TOT di kabupaten Takalar membutuhkan biaya produksi sebesar Rp 2.872.500,- dengan tingkat pendapatan petani antara Rp 15.327.500 /ha/satu kali panen.
 
 
 
 sumber: Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian,2011
Amir Syam, Siti Najma Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan 

 http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/teknologi-tot-tanpa-olah-tanah-jagung

Teknologi Peningkatan Daya Sangga Air pada Lahan Sawah

Sumber Gambar: http://www.google.co.id
Perubahan iklim yang membuat terjadinya pergeseran waktu tanam sehingga cenderung menurunkan produksi padi sawah irigasi terutama produksi padi pada musim gaduh, telah menjadikan keadaan yang cukup sulit bagi petani. Bahan organik merupakan faktor penting dalam peningkatan daya sangga tanah terhadap air, sehingga ketersediaan air dalam tanah meningkat. Teknologi peningkatan daya sangga air pada lahan sawah dirancang dengan memanfaatkan jerami hasil samping panen. Jika seluruh jerami yang jumlahnya rata-rata 7,5-10 ton/ha dikembalikan kedalam tanah, maka jerami akan menyimpan air tanah, minimal seberat dirinya sendiri. Hal itu disebabkan bahan organik (jerami) mempunyai daya afinitas tinggi terhadap air (Ball, 2010).
 
Pemahaman petani terhadap potensi jerami untuk peningkatan ketersediaan air tanah direspon sangat baik oleh petani, sehingga hasil padi mereka di musim gaduh jauh lebih baik dari pada petani yang tidak terlalu peduli akan pentingnya pengembalian jerami. Menurut petani di desa Wonosari, Kecamatan Pekalongan Lampung Timur, teknologi ini sangat memuaskan mereka karena produksi padi dapat ditingkatkan.


Tanpa pengembalian seluruh
jerami padi ke sawah, produksi padi pada musim gaduh bisa menurun melebihi 40% dari pada produksi padi musim rendeng bahkan kalau tidak ada air tambahan (air dipompa dari sungai) tanaman padi mereka bisa puso. Dengan pengembalian seluruh jerami padi hasil musim rendeng dan didukung oleh kondisi yang tidak ekstrim kering , produksi padi di musim gaduh hanya menurun sekitar 10-25%. Menurut petani dengan teknologi tersebut mereka dapat menghindari kehilangan hasil sekitar 10-15% (± 1,0-1,5 ton/ha).
 
Tabel 1. Penghasilan bersih petani dari 1 ha sawah irigasi sebelum dan sesudah penanaman jagung untuk sayuran/pakan di awal musim hujan dan pengembalian jerami padi hasil tanam musim rendeng untuk penanaman di musim gaduh sebagai usaha mengatasi dampak perubahan iklim di Kabupaten Lampung Timur
 
No.
Komoditas
 
Penghasilan (Rp/ha)
 
Sebelum Penanaman Jagung dan
Pengembalian Jerami
 
Sesudah Penanaman Jagung dan
Pengembalian Jerami
 
Musim Rendeng
Musim Gaduh
Musim Rendeng
Musim Gaduh
1.
Jagung
-
-
4.280.000,-
-
Padi
9.400.000,-
5.640.000,-
9.400.000,-
7.520.000,-
Jumlah
9.400.000,-
5.640.000,-
13.680.000,-
7.520.000,-
 
Total per tahun
 
15.040.000,-
 
21.200.000,-

sumber: Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian,2011 Bariot Hafif dan Masganti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung

 http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/teknologi-peningkatan-daya-sangga-air-pada-lahan-sawah

Minggu, 26 Agustus 2012

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Padi


Tanaman padi (Oryza sativa) sebagai sumber utama makanan pokok memegang peranan yang sangat penting dalam usaha pemenuhan kebutuhan pangan. Dalam usaha tani pada hama potensi hasil yang diharapkan, meskipun menggunakan varietas unggul, pemupukan, pengairan dan perbaikan cara bercocok tanam telah diterapkan. Pengenalan terhadap jenis hama dan penyakit yang menyerang merupakan langkah awal yang sangat penting untuk menunjang keberhasilan dalam usaha pengendalian. Dalam hal ini dapat dilakukan melalui identifikasi terhadap jasad pengganggunya dan gejala serangan yang ditimbulkannya.
Hama Penting Pada Tanaman Padi
  • Fase Pesemaian     : Tikus, Penggerek Batang, Keong mas, Wereng hijau.
  • Fase Vegetatif          : Tikus, Penggerek batang, Wereng coklat, keong mas ganjur
  • Fase Generatif         : Tikus, Penggerek batang, Wereng coklat, Penggulung daun,   Ulat Grayak
Pngendalian Hama Tikus
  • Pratanam      : 1) Pemantauan Populasi, 2) Sanitasi habitat.
  • Semai            : 1) Gropyok pesemaian berkelompok, 2) Penggunaan pagar                                          plastik dan bubu perangkap TBS pada setiap 20-40 ha
  • Fase vegetatif : Pengumpanan racun tikus dan sanitasi habitat.
  • Fase generatif : Fumigasi dan sanitasi habitat 
Pengendalian Hama Penggerek Batang
  • Pratanam : Mengatur waktu tanam dan monitoring
  • Semai : Pengambilan kelompok telur
  • Fase vegetatif & generatif : Pemantauan gejala trapping masal dengan feromon serta panen dengan cara batang padi dipotong pendek.
Pengendalian Hama Wereng Coklat
  • Pratanam : Pilih Varietas Tahan tahan sesuai biotipe, MH : IR64, IR74, Membramo, Way Apo Buru, MK : IR42, Cisantana, Ciliwung, Cibodas.
  • Vegetatif : Aplikasi insektisida dasar, monitoring perimbangan wereng predator.
Pengendalian Hama Keong Mas
  • Pretanam dan semai :
-       Pembuangan keong mas
-       Sebar benih lebih dan sanitasi saluran irigasi
  • Vegetatif :
-       Pembuangan keong, pada daerah endemik keong, benih ditanam lebih tua umur 15 s/d 20 hari.
-       Perlakukan benih dengan Fipronil
-       Tidak menggenangi lahan hingga 7 HST.
-       Pembuatan parit kecil/caren dalam 1 petak sawah,
-       Pasang saringan di pemasukan air dengan mesh 5 mm dan pasang ajir.
-       Pengumpanan daun talas dan pepaya.
-       Aplikasi niklosamida saponin.
Pengendalian Hama Ganjur
  • Pretanam : 1) mengatur waktu tanam yaitu hindarkan vegetatif padi pada puncak musim hujan, 2) sebelum sebar benih lakukan sanitasi gulma dan sumber inokulum lainnya dan 3) gunakan varietas tahan
  • Vegetatif : Tanam legowo, gunakan lampu perangkap dan apabila gejala serangan >2% aplikasi insektisida karbofuran.
  • Pengendalian Hama Walang Sangit
  • Penggunaan perangkap yaitu dari bahan keong yang dibusukan.
  • Melakukan pengasapan.
  • Menggunakan insektisida nabati yaitu tanaman cabai
  • Penggunaan kapur barus, aplikasi dilakukan pada fase vegetatif atau saat padi bunting sampai bulir-bulir mulai mengeras yaitu dengan cara menggantungkan kapur barus tersebut yang sudah dimasukan kedalam pembungkus dari kain bekas.
Pengendalian Penyakit Blas
  • Pratanam : 1) Bakar sisa tanaman; 2) tidak menanam benih dari daerah endemis ; 3) perlakuan benih (isoprotiolan) dan 4) jangan mengunakan varietas Cirata atau limboto.
  • Vegetatif dan Generatif : 1) tidak memupuk N berlebihan; 2) aplikasi fungisida binomil atau isprotiolan pada primordia/awal berbunga.
Pengendalian Hawar Daun Bakteri
  • Vegetatif : 1) Pemupukan berimbang, 2) Tanam jejar legowo, dan 3) Amati penyakit bila keparahan mencapai 20% aplikasi dengan Agrep.
Pengendalian Penyakit Tungro
  • Tanam varietas tahan
  • Sebar benih setelah lahan dibersihkan
  • Tanam pada saat yang tepat (pada akhir dan awal musim penghujan).
Sumber : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat 2009
              gambar google

pengelolaan tanaman padi


Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) merupakan alternatif pengelolaan padi secara intensif pada lahan sawah. Komponen-komponen pengelolaan tanaman terpadu seperti pengelolaan hama terpadu (PHT), hara terpadu, air terpadu, dan gulma terpadu telah dipraktekan dalam beberapa tahun terakhir. Namun karena pengelolaan-nya masih parsial, maka hasilnya belum optimal. Model PTT dikembangkan dengan secara menyeluruh, dengan mengintegrasikan produksi tanaman, sehinngga diharapkan hasilnya akan lebih nyata.
Pendekatan PTT memperhatiikan penerapan teknologi dengan kesesuaian sosial dan ekonomi masyarakat setempat. 
Hasil penelitaian yang dilaksanakan oleh Puslitbang Tanaman Pangan dan IRRI direkomendasikan perlunya pendekatan PTT yang mengintegrasikan penggunaan kompos/pupuk organik pada usaha tani lahan sawah. FAO bahkan menetapkan perlunya pendekatan PTT sebagai penyempurnaan dari program Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Salah satu pencirian dalam pendekatan PTT adalah keharusan dalam penerapan seluruh komponen teknologinya.
Pemilihan Varietas
  1. Varietas yang digunakan adalah varietas unggul dan bermutu sesuai dengan lingkungan setempat dan selera pasar. Kebutuhan benih unggul 25-30 kg/ha.
  2. Untuk lahan pasang surut varietas yang dapat digunakan yaitu : Air Tenggulang, Musi, Indragiri, Punggur, Inpara 1,2 dan 3
  3. Untuk lahan irigasi dapat digunakan varietas Ciherang, Mekongga, Gilirang, Inpari 1-10 dan Silogonggo
Seleksi dan Penyemaian Benih
  1. Masukan benih ke dalam ember berisi air garam 3%, aduk untuk memudahkan pemisihan; keluarkan benih yang terapung, cuci benih yang terbenam.
  2. Tempatkan benih terpilih ke dalam kantong kain, kemudian rendam dalam air hangat
  3.  Tiriskan air dari kantong kain keluarkan dan letakkan di tempat hangat
  4. Buat bedengan lumpur disawah dengan lebar 1,0-1,2 m dan panjangnya 10-20m, tambahkan bahan organik/sekam 2kg/m2, tabur benih.
  5.  Persemaian di pagar plastik
  6. Dipupuk urea, dosis 20-40 gr/m2

Pengolahan Tanah
  1. Penyemprotan herbisida Sistematik dosis 2-4 l/ha, pada awal MH, Sebarkan bbahan organik dan benamkan gulma
  2. Bajak menggunakan hand traktor, atau cangkul, diglebeg 1 kali. Catatan : Setelah 3 musim tanam disingkal 1 kali dan diglebeg, siap tanam (lahan pasang surut)
  3. Setelah lahan digenangi dan tanah lunak, jadikan melumpur
  4.  Ratakan lahan

Pengairan 
  1. Perbaikan saluran kuarter : pendalam saluran, pembersihan gulma dan saluran.
  2. Tata air mikro: penyediaan pintu   air, pembuatan saluran cacing.
Penanaman 
  1. Setelah berdaun dua, kira-kira 15-20 hari di pesemaian, bibit siap dipindah
  2. Diusahakan akr tidak putus
  3. Angkat bibit dengan tanah dari pembibitan, segera ditanam
  4. Tanam dalam kondisi air macak-macak
  5. Tanam teratur, 1 bibitper lubang tanam
  6. Jarak tanam; 20 cm x 20 cm, atau 40 cm x 20 cm x 10 cm (jajar legowo 4:1)
  7. Penyulaman 7 HST, dengan umur bibit sama.
Pemupukan
  1. Pupuk dasar, 7 – 10 HST. Jenis pupuk; urea 50 kg/ha; SP36 100kg/ha, KCl 25kg/ha.
  2. Pemupukan urea ke 2 umur 25-28 HST dan ke 3 pada umur 38-42 HST menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). Jika warna daun berada pada skala 2 s/d 3,5 maka perlu dipupuk 50-75 kg urea/ha.
Pengendalian Gulma
  1. Keluarkan air sebelum pengendalian gulma
  2.  Lakukan penyulaman lebih awal, tangan atau alat mekanik
  3.  Ulangi 2 s/d 3 kali sampai daun-daun menutup (sebelum pemupukan susulan I dan II)
  4. Dapat juga digunakan herbisida sesuai anjuran
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan berdasarkan pengelolaan hama terpadu (PHT). Kemampuan pengendalian yang diterapkan disesuaikan tahapan budidaya tanaman secara umum, yaitu;
  1. Pertanaman: gunakan varietas yang tahan, tanam serempak, melakukan pengamatan lubang-lubang tikus
  2. Pesemaian: pememriksaan secara dini pada kelompok telur, perlakukan benih dan bibit
  3. Fase vegetatif gunakan urea sesuai BWD, memantau pengembangan hama dan penyakit
  4. Fase generatif, memantau perkembangan hama dan penyakit
Panen
  1. Hitung sejak padi mulai berbunga, biasanya panen jatuh pada 30-35 hari  setelah berbunga
  2. Panen dilakukan bila 90% mulai menguning/masak fisiologis.
  3. Panen dilakukan dengan menggunakan arit, potong bagian tengah atau atas rumpun bila dirontok dengan power thresher.
Sumber : Brosur budidaya Padi
               Balai pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat 2009
sumber gambar : google

Teknologi Budidaya Padi Dengan Pendekatan PTT

Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) merupakan alternatif pengelolaan padi secara intensif pada lahan sawah. Komponen-komponen pengelolaan tanaman terpadu seperti pengelolaan hama terpadu (PHT), hara terpadu, air terpadu, dan gulma terpadu telah dipraktekan dalam beberapa tahun terakhir. Namun karena pengelolaan-nya masih parsial, maka hasilnya belum optimal. Model PTT dikembangkan dengan secara menyeluruh, dengan mengintegrasikan produksi tanaman, sehinngga diharapkan hasilnya akan lebih nyata.
Pendekatan PTT memperhatiikan penerapan teknologi dengan kesesuaian sosial dan ekonomi masyarakat setempat. 
Hasil penelitaian yang dilaksanakan oleh Puslitbang Tanaman Pangan dan IRRI direkomendasikan perlunya pendekatan PTT yang mengintegrasikan penggunaan kompos/pupuk organik pada usaha tani lahan sawah. FAO bahkan menetapkan perlunya pendekatan PTT sebagai penyempurnaan dari program Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Salah satu pencirian dalam pendekatan PTT adalah keharusan dalam penerapan seluruh komponen teknologinya.
Pemilihan Varietas
  1. Varietas yang digunakan adalah varietas unggul dan bermutu sesuai dengan lingkungan setempat dan selera pasar. Kebutuhan benih unggul 25-30 kg/ha.
  2. Untuk lahan pasang surut varietas yang dapat digunakan yaitu : Air Tenggulang, Musi, Indragiri, Punggur, Inpara 1,2 dan 3
  3. Untuk lahan irigasi dapat digunakan varietas Ciherang, Mekongga, Gilirang, Inpari 1-10 dan Silogonggo
Seleksi dan Penyemaian Benih
  1. Masukan benih ke dalam ember berisi air garam 3%, aduk untuk memudahkan pemisihan; keluarkan benih yang terapung, cuci benih yang terbenam.
  2. Tempatkan benih terpilih ke dalam kantong kain, kemudian rendam dalam air hangat
  3.  Tiriskan air dari kantong kain keluarkan dan letakkan di tempat hangat
  4. Buat bedengan lumpur disawah dengan lebar 1,0-1,2 m dan panjangnya 10-20m, tambahkan bahan organik/sekam 2kg/m2, tabur benih.
  5.  Persemaian di pagar plastik
  6. Dipupuk urea, dosis 20-40 gr/m2
Pengolahan Tanah
  1. Penyemprotan herbisida Sistematik dosis 2-4 l/ha, pada awal MH, Sebarkan bbahan organik dan benamkan gulma
  2. Bajak menggunakan hand traktor, atau cangkul, diglebeg 1 kali. Catatan : Setelah 3 musim tanam disingkal 1 kali dan diglebeg, siap tanam (lahan pasang surut)
  3. Setelah lahan digenangi dan tanah lunak, jadikan melumpur
  4.  Ratakan lahan

Pengairan 
  1. Perbaikan saluran kuarter : pendalam saluran, pembersihan gulma dan saluran.
  2. Tata air mikro: penyediaan pintu   air, pembuatan saluran cacing.
Penanaman 
  1. Setelah berdaun dua, kira-kira 15-20 hari di pesemaian, bibit siap dipindah
  2. Diusahakan akr tidak putus
  3. Angkat bibit dengan tanah dari pembibitan, segera ditanam
  4. Tanam dalam kondisi air macak-macak
  5. Tanam teratur, 1 bibitper lubang tanam
  6. Jarak tanam; 20 cm x 20 cm, atau 40 cm x 20 cm x 10 cm (jajar legowo 4:1)
  7. Penyulaman 7 HST, dengan umur bibit sama.
Pemupukan
  1. Pupuk dasar, 7 – 10 HST. Jenis pupuk; urea 50 kg/ha; SP36 100kg/ha, KCl 25kg/ha.
  2. Pemupukan urea ke 2 umur 25-28 HST dan ke 3 pada umur 38-42 HST menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). Jika warna daun berada pada skala 2 s/d 3,5 maka perlu dipupuk 50-75 kg urea/ha.
Pengendalian Gulma
  1. Keluarkan air sebelum pengendalian gulma
  2.  Lakukan penyulaman lebih awal, tangan atau alat mekanik
  3.  Ulangi 2 s/d 3 kali sampai daun-daun menutup (sebelum pemupukan susulan I dan II)
  4. Dapat juga digunakan herbisida sesuai anjuran
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan berdasarkan pengelolaan hama terpadu (PHT). Kemampuan pengendalian yang diterapkan disesuaikan tahapan budidaya tanaman secara umum, yaitu;
  1. Pertanaman: gunakan varietas yang tahan, tanam serempak, melakukan pengamatan lubang-lubang tikus
  2. Pesemaian: pememriksaan secara dini pada kelompok telur, perlakukan benih dan bibit
  3. Fase vegetatif gunakan urea sesuai BWD, memantau pengembangan hama dan penyakit
  4. Fase generatif, memantau perkembangan hama dan penyakit
Panen
  1. Hitung sejak padi mulai berbunga, biasanya panen jatuh pada 30-35 hari  setelah berbunga
  2. Panen dilakukan bila 90% mulai menguning/masak fisiologis.
  3. Panen dilakukan dengan menggunakan arit, potong bagian tengah atau atas rumpun bila dirontok dengan power thresher.
Sumber : Brosur budidaya Padi
               Balai pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat 2009
sumber gambar : google

Label