Tampilkan postingan dengan label GALERI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GALERI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 September 2012

PENYELENGGARAN PELATIHAN DALAM SISTEM LAKU

Peningkatan kualitas sumber daya manusia petani, pekebun, peternak dalam melaksanakan usahatani dari hulu sampai dengan hilir telah diupayakan melalui penyuluhan pertanian.
Sejak tahun 1976 penyuluhan pertanian menggunakan pendekatan latihan dan kunjungan (LAKU), ternyata sangat efektif dalam peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan petani sehingga pada tahun 1984 Indonesia mencapai swasembada beras. Dalam revitalisasi penyuluhan pertanian dipandang perlu sistem kerja LAKU diterapkan kembali dengan modifikasi sesuai kondisi dan kebijaksanaan yang ada.
Pengertian
LAKU singkatan dari latihan dan kunjungan. Latihan/pelatihan adalah suatu kegiatan alih pengetahuan dan keterampilan baik berupa teori maupun praktek dari fasilitator ke penyuluh pertanian melalui metode partisipatif. Sedangkan kunjungan adalah kegitan penyuluh pertanian ke kelompok tani di wilayah kerjanya yang dilakukan secara teratur, terarah dan berkelanjutan. 


Penyelenggaraan latihan dalam sistem LAKU
Pelatihan dalam sistem LAKU merupakan proses belajar-mengajar bagi penyuluh pertanian secara rutin setiap dua minggu sekali bertempat di Balai Penyuluhan Kecamatan atau tempat lain. Pelatihan ini difasilitasi oleh penyuluh pertanian yang menguasai materi, maupun tenaga ahli dari lembaga/instansi lain. 

Tujuan pelatihan dalam sistem LAKU adalah (1) Menyampaikan berbagai informasi yang berkaitan dengan pembangunan pertanian; (2) Meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan penyuluh pertanian, baik teori maupun praktek; (3) Meningkatkan kemampuan dalam menganalisis dan memecahkan masalah yang dihadapi di tingkat lapangan; dan (4) Meningkatkan kemampuan penyuluh pertanian dalam menyusun perencanaan dan melaksanakan penyuluhan pertanian. 

Sasaran pelatihan dalam sistem LAKU adalah (1) Disampaikannya berbagai informasi yang berkaitan dengan pembangunan pertanian. Penyuluh pertanian perlu menerima Informasi-informasi yang berkaitan dengan program-program Pemerintah (pusat) maupun pemerintah daerah. Selanjutnya disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan agribisnis di lapangan/petani binaannya untuk digunakan sebagai bahan menyusun programa penyuluhan di desanya; (2) Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan penyuluh pertanian, baik teori maupun praktek. Teori yang diberikan sesuai dengan kebutuhan petani yang dibina untuk pengembangan agribisnisnya dan masalah-masalah yang ditemukan di lapangan. Praktek dapat dilaksanakan di lahan/lapangan maupun di kelas. Materi praktek penyuluhan diarahkan agar peserta (penyuluh pertanian) dapat berpartisipatif aktif, praktek tidak hanya mengenai teknis budidaya saja. Materi yang dibahas dapat meliputi: simulasi, cara-cara berbicara, cara mengajar, teknis diskusi kelompok, membuat alat peraga dan sebagainya; (3) Meningkatnya kemampuan dalam menganalisis dan memecahkan permasalahan yang dihadapi di tingkat lapangan. Pemecahan masalah dapat berisi masalah teknis, sosial dan ekonomi yang dihadapi petani; dan (4) Meningkatnya kemampuan penyuluh pertanian dalam menyusun perencanaan dan melaksanakan penyuluhan pertanian. Sasaran ini dapat dicapai melalui pelatihan dengan output: (a) Rencana kegiatan penyuluhan dua minggu yang akan datang yang mengacu kepada rencana kerja penyuluh pertanian secara tertulis yang jelas dan spesifik; (b) Kesimpulan pemecahan permasalahan yang dihadapi di tingkat lapangan; (c) Petunjuk dan saran dari tingkat kabupaten. 

Materi pelatihan dalam sistem LAKU mencakup program-program pembangunan yang sedang dan akan dikembangkan daerah setempat, serta materi-materi bersifat membantu memecahkan permasalahan petani/peternak/pekebun. Sumber materi teknologi pertanian dapat bersumber dari Tabloid Sinar Tani, dipilih materi yang sekiranya dapat dikembangkan di wilayah kerja penyuluh pertanian dan materi yang dapat untuk membantu pemecahan masalah petani/peternak/pekebun setempat. Materi-materi pelatihan dirancang sampai tujuan intruksional khusus, misalnya peserta hanya pemahaman saja, peserta harus terampil, dan lain-lain. 

Prinsip-prinsip penyelenggaraan pelatihan dalam sistem LAKU adalah (1) Teratur, terarah dan berkelanjutan; (2) Topik pelatihan harus aktual, faktual dan dibutuhkan oleh petani; (3) Pembahasan materi harus mendalam; (4) Latihan mencakup teori dan praktek; (5) Latihan harus mampu memecahkan permasalahan teknis di lapangan yang sedang dihadapi petani; (6) Pelatih/fasilitator/pengajar harus menguasai materi dan metoda yang dipergunakan; (6) Pelatihan menggunakan metoda partisipatif; (7) Pelatihan dilaksanakan sesuai jadwal. 

Proses pelatihan dalam sistem LAKU sebagai berikut: (1) Diskusi umum antara penyuluh pertanian dengan petugas instansi terkait untuk memecahkan masalah lapangan. Petugas instansi terkait antara lain pengamat irigasi, pengamat OPT, petugas perbankan, petugas benih, dan lain-lain; (2) Fasilitator menyampaikan materi yang sesuai dengan kebutuhan pemecahan masalah di lapangan; (3) Apabila ada materi yang harus praktek dapat dilakukan di luar atau di dalam ruangan; (4) Evaluasi pelaksanaan rencana kerja 2 minggu yang lalu. Caranya setiap penyuluh pertanian menyampaikan laporan tentang kemajuan yang dicapai dan permasalahan di lapangan untuk dipecahkan bersama; dan (5) Menyusun rencana kerja untuk 2 minggu yang akan datang.

Sumber : SUSILO ASTUTI H. (Penyuluh Pertanian Pusluhtan) 
 http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/penyelenggaran-pelatihan-dalam-sistem-laku

Teknologi TOT (Tanpa Olah Tanah) Jagung

Sumber Gambar: http://www.google.co.id
Sulawesi selatan termasuk salah satu wilayah pengembangan jagung Nasional dan pemasok kebutuhan jagung di Indonesia. Daerah ini memiliki dua agroekosistem yaitu lahan kering seluas 913.446 Ha dan lahan sawah tadah hujan seluas 239.171 Ha. Pengembangan jagung lahan kering umumnya dilakukan pada musim hujan, sehingga produktivitas tidak seoptimal apabila dilakukan pada musim kemarau di lahan sawah tadah hujan. Penyebabnya adalah intensitas penyinaran matahari dan jumlah debit air pada setiap fase yang berbeda terhadap pertanaman jagung. BPTP Sulawesi Selatan mengintroduksikan pertanaman jagung dengan teknologi TOT yang diawali pada tahun 2005 di kabupaten Jeneponto yang memiliki curah hujan hanya sekitar 3-5 bulan/tahun.

Implementasi dan inovasi teknologi ini memberikan dampak pada peningkatan indeks pertanaman (IP) jagung. Pemanfaatan lahan sawah tadah hujan umumnya rata-rata hanya satu kali sampai dua kali (padi rendengan dan padi MK I), setelah itu lahan dibiarkan bero sehingga peluang keberhasilan hanya dapat ditempuh melalui pertanaman jagung dengan sistem TOT pada lahan sawah tadah hujan. Penerapan teknologi pertanaman jagung sistem TOT pada lahan sawah tadah hujan dapat meningkatkan indeks pertanaman dari (100 dan 200) menjadi (200 dan 300). Teknologi budidaya jagung cara TOT di hamparan pertanaman padi rendengan di kabupaten Jeneponto memberikan hasil optimal dibanding pertanaman padi yang mengolah tanah sempurna.

Pemerintah Daerah Jeneponto memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap teknologi TOT pada budidaya jagung karena petani memperoleh pendapatan dari usahatani jagung sebesar Rp 10.000.000/ha/satu kali panen. Sedang penerapan budidaya jagung cara TOT di kabupaten Takalar membutuhkan biaya produksi sebesar Rp 2.872.500,- dengan tingkat pendapatan petani antara Rp 15.327.500 /ha/satu kali panen.
 
 
 
 sumber: Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian,2011
Amir Syam, Siti Najma Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan 

 http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/teknologi-tot-tanpa-olah-tanah-jagung

Teknologi Peningkatan Daya Sangga Air pada Lahan Sawah

Sumber Gambar: http://www.google.co.id
Perubahan iklim yang membuat terjadinya pergeseran waktu tanam sehingga cenderung menurunkan produksi padi sawah irigasi terutama produksi padi pada musim gaduh, telah menjadikan keadaan yang cukup sulit bagi petani. Bahan organik merupakan faktor penting dalam peningkatan daya sangga tanah terhadap air, sehingga ketersediaan air dalam tanah meningkat. Teknologi peningkatan daya sangga air pada lahan sawah dirancang dengan memanfaatkan jerami hasil samping panen. Jika seluruh jerami yang jumlahnya rata-rata 7,5-10 ton/ha dikembalikan kedalam tanah, maka jerami akan menyimpan air tanah, minimal seberat dirinya sendiri. Hal itu disebabkan bahan organik (jerami) mempunyai daya afinitas tinggi terhadap air (Ball, 2010).
 
Pemahaman petani terhadap potensi jerami untuk peningkatan ketersediaan air tanah direspon sangat baik oleh petani, sehingga hasil padi mereka di musim gaduh jauh lebih baik dari pada petani yang tidak terlalu peduli akan pentingnya pengembalian jerami. Menurut petani di desa Wonosari, Kecamatan Pekalongan Lampung Timur, teknologi ini sangat memuaskan mereka karena produksi padi dapat ditingkatkan.


Tanpa pengembalian seluruh
jerami padi ke sawah, produksi padi pada musim gaduh bisa menurun melebihi 40% dari pada produksi padi musim rendeng bahkan kalau tidak ada air tambahan (air dipompa dari sungai) tanaman padi mereka bisa puso. Dengan pengembalian seluruh jerami padi hasil musim rendeng dan didukung oleh kondisi yang tidak ekstrim kering , produksi padi di musim gaduh hanya menurun sekitar 10-25%. Menurut petani dengan teknologi tersebut mereka dapat menghindari kehilangan hasil sekitar 10-15% (± 1,0-1,5 ton/ha).
 
Tabel 1. Penghasilan bersih petani dari 1 ha sawah irigasi sebelum dan sesudah penanaman jagung untuk sayuran/pakan di awal musim hujan dan pengembalian jerami padi hasil tanam musim rendeng untuk penanaman di musim gaduh sebagai usaha mengatasi dampak perubahan iklim di Kabupaten Lampung Timur
 
No.
Komoditas
 
Penghasilan (Rp/ha)
 
Sebelum Penanaman Jagung dan
Pengembalian Jerami
 
Sesudah Penanaman Jagung dan
Pengembalian Jerami
 
Musim Rendeng
Musim Gaduh
Musim Rendeng
Musim Gaduh
1.
Jagung
-
-
4.280.000,-
-
Padi
9.400.000,-
5.640.000,-
9.400.000,-
7.520.000,-
Jumlah
9.400.000,-
5.640.000,-
13.680.000,-
7.520.000,-
 
Total per tahun
 
15.040.000,-
 
21.200.000,-

sumber: Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian,2011 Bariot Hafif dan Masganti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung

 http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/teknologi-peningkatan-daya-sangga-air-pada-lahan-sawah

Label