Tampilkan postingan dengan label SDM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SDM. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 September 2012

Penggunaan Bagan Warna Daun pada Jagung

Penggunaan Bagan Warna Daun pada Jagung
Apa itu BWD?
Salah satu cara agar pemberian pupuk N sesuai dengan kebutuhan tanaman jagung adalah dengan memantau status hara N melalui daun tanaman. Bagan Warna Daun (BWD) berfungsi untuk menilai tingkat kehijauan daun guna mengetahui takaran dan waktu pemberian pupuk N (berupa pupuk urea) yang tepat pada tanaman jagung. Memupuk berdasarkan warna daun akan menghemat pupuk. Pemupukan N bertahap pada jagung Pada awal pertanaman (umur 7 hari setelah tanam), tanaman dipupuk N (urea) sebanyak 50 kg N (111 kg urea) per ha bersamaan dengan pupuk P dan K sesuai rekomendasi setempat. Pada umur 28-30 hari dipupuk lagi sebanyak 75 kg N (167 kg urea) per ha. Pada umur 40-50 hari setelah tanam (bergantung varietas) dilakukan pemantauan warna
daun menggunakan BWD. Tambahan pemberian pupuk urea dilakukan berdasarkan hasil pemantauan, dengan takaran disesuaikan seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Takaran pupuk N (berupa pupuk urea) yang harus ditambahkan sesuai nilai skala hasil pemantauan warna daun. terlampir. 


Cara Pengamatan
- Pilih 20 tanaman secara acak pada setiap petakan lahan;
- Pilih daun yang akan dipantau warnanya. Daun yang akan dipantau warnanya adalah daun yang telah terbuka sempurna (daun ke tiga dari atas);
- Lindungi daun yang akan dipantau warnanya dengan cara membelakangi matahari, sehingga daun atau alat BWD tidak terkena matahari langsung agar penglihatan tidak silau;
- Letakkan daun di atas BWD. Bagian daun yang dipantau adalah sekitar 1/3 dari ujung daun, kemudian warna daun dibandingkan dengan warna BWD, skala yang paling sesuai dengan warna daun dicatat. BWD mempunyai nilai skala 2 - 5. Jika warna daun berada di antara skala 2 dan 3 gunakan nilai 2,5 di antara 3 dan 4 gunakan nilai 3,5 dan di antara 4 dan 5 gunakan nilai 4,5;
- Rata-ratakan nilai skala dari 20 daun yang diamati. Nilai rata-rata skala digunakan untuk menentukan tambahan takaran pupuk urea sesuai Tabel 1.
 
Sumber: Balai Penelitian Tanaman Serealia 
 http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/penggunaan-bagan-warna-daun-pada-jagung

PEMILIHAN METODE PENYULUHAN PERTANIAN

Sumber Gambar: http://www.google.co.id
Penyuluhan pertanian harus dilaksanakan secara efektif dan efisien, maka diperlukan metode penyuluhan pertanian sesuai kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha. Oleh karena itu diperlukan pemilihan metode yang akan digunakan dalam kegiatan penyuluhan pertanian. 
 
Dasar pertimbangan
Ada lima hal sebagai dasar pertimbangan dalam pemilihan metode penyuluhan pertanian, yaitu tahapan dan kemampuan adopsi, sasaran, sumber daya, keadaan daerah dan kebijakan pemerintah.
Proses adopsi inovasi (suatu hal baru) seseorang meliputi lima tahap, yaitu: (1) Tahap pemumbuhan perhatian, dimana seseorang hanya sekedar tahu adanya hal baru; (2) Tahap penumbuhan minat, dimana seseorang ingin mengetahui hal baru lebih banyak dan mencari informasi lebih lanjut; (3) Tahap menilai, dimana seseorang mampu membuat perbandingan hal baru dengan yang sebelumnya; (4) Tahap mencoba, dimana mencoba hal baru; dan (5) Tahap menetapkan, dimana seseorang yakin dan menerapkan hal baru. Kemudian kemampuan adopsi hal baru seseorang dapat dikelompokan menjadi inovator, penerap dini, penerap awal, penerap akhir, dan penolak.


Sasaran penyuluhan pertanian terdiri dari pelaku utama (petani, pekebun, peternak beserta keluarganya) dan pelaku usaha (seseorang atau korporasi berbadan hukum yang mengelola usaha pertanian). Dari sasaran yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode penyuluhan antara lain: kemampuan (meliputi tingkat pengetahuan, keterampilan dan sikap), sosial budaya (mencakup adat kebiasaan, norma/aturan yang berlaku, dan status kepemimpinan yang ada.
Perlu juga mempertimbangkan sumber daya yang meliputi antara lain kemampuan penyuluh, materi penyuluhan, sarana dan prasarana penyuluhan. Juga dari keadaan daerah meliputi musim/iklim, keadaan usahatani, dan keadaan lapangan. Demikian juga perlu dipertimbangkan kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. 

Tahapan pemilihan metode
Pemilihan metode penyuluhan pertanian melalui tiga tahapan, yaitu (1) Menghimpun dan menganalisa data sasaran, penyuluh dan kelengkapannya, serta keadaan daerah dan kebijakan pemerintah; (2) Menetapkan alternatif metode; dan (3) Menetapkan metode yang akan digunakan dalam penyuluhan pertanian.
Data yang dihimpun dan dianalisa meliputi data-data: sasaran, penyuluh dan kelengkapannya, serta keadaan daerah dan kebijakan pemerintah. Data sasaran penyuluhan pertanian meliputi: (1) Siapa (golongan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan jumlah); (2) Budaya (adat kebiasaan, norma-norma, dan pola kepemimpinan); (3) Bentuk usahatani sasaran; dan (4) Kesediaan sasaran sebagai demonstrator. Sedangkan data penyuluh dan kelengkapannya meliputi: (1) Kondisi penyuluh (kemampuan, jumlah, pengetahuan dan keterampilan); (2) Materi penyuluhan; (3) Sarana dan prasarana penyuluhan; dan (4) Biaya yang tersedia. Kemudian data keadaan daerah dan kebijakan pemerintah meliputi: (1) Musim/iklim; (2) Keadaan lapangan (tofografi, jenis tanah, dan sistem pengairan; (3) Fasilitas (jalan, listrik, telepon); dan (4) Kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah setempat. 

Dalam menetapkan alternatif metode penyuluhan pertanian tidak ada batasan yang jelas, secara umum dapat digambarkan sebagai berikut: (1) Metode dengan pendekatan massal (banyak orang) dipergunakan untuk tujuan menarik perhatian, menumbuhkan minat dan keinginan, serta memberikan informasi; (2) Metode dengan pendekatan kelompok (kelompok tani/gabungan kelompok tani) bertujuan untuk memberikan informasi yang lebih rinci dari tahap menginginkan ke tahap mencoba atau sampai menerapkan suatu teknologi; dan (3) Metode dengan pendekatan perorangan/individu biasanya sangat berguna dalam tahap mencoba hingga menerapkan, karena adanya tatap muka antara penyuluh pertanian dengan sasaran. 

Kegiatan penyuluhan pertanian dapat menggunakan satu atau lebih metode penyuluhan. Apabila lebih dari satu metode penyuluhan yang terpilih, maka pelaksanaannya dapat dilakukan sebagai berikut: (1) Pengulangan, misalnya kursus tani I diulang dengan kursus tani II dan seterusnya dengan materi yang berlanjut; (2) Berurutan, misalnya kursus tani diikuti dengan karya wisata, perlombaan, dan lain-lain; dan (3) Kombinasi, misalnya pada waktu demonstrasi usahatani sekaligus dilaksanakan lomba antar peserta. 

Dalam menetapkan metode penyuluhan pertanian perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) Dapat mengembangkan keswadayaan/kemandirian sasaran; (2) Dapat menjangkau tetap sasaran (jumlah, waktu, dan mutu), mudah diterima dan dimengerti, menggunakan fasilitas dan media secara efektif serta efisien; (3) Dapat menjamin keberlanjutan pelaksanaan; dan (4) Partisipasi aktif sasaran (sasaran mau berperan aktif). 



Sumber : SUSILO ASTUTI H.
(Penyuluh Pertanian Pusluhtan) 
 http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/pemilihan-metode-penyuluhan-pertanian

PENYELENGGARAN PELATIHAN DALAM SISTEM LAKU

Peningkatan kualitas sumber daya manusia petani, pekebun, peternak dalam melaksanakan usahatani dari hulu sampai dengan hilir telah diupayakan melalui penyuluhan pertanian.
Sejak tahun 1976 penyuluhan pertanian menggunakan pendekatan latihan dan kunjungan (LAKU), ternyata sangat efektif dalam peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan petani sehingga pada tahun 1984 Indonesia mencapai swasembada beras. Dalam revitalisasi penyuluhan pertanian dipandang perlu sistem kerja LAKU diterapkan kembali dengan modifikasi sesuai kondisi dan kebijaksanaan yang ada.
Pengertian
LAKU singkatan dari latihan dan kunjungan. Latihan/pelatihan adalah suatu kegiatan alih pengetahuan dan keterampilan baik berupa teori maupun praktek dari fasilitator ke penyuluh pertanian melalui metode partisipatif. Sedangkan kunjungan adalah kegitan penyuluh pertanian ke kelompok tani di wilayah kerjanya yang dilakukan secara teratur, terarah dan berkelanjutan. 


Penyelenggaraan latihan dalam sistem LAKU
Pelatihan dalam sistem LAKU merupakan proses belajar-mengajar bagi penyuluh pertanian secara rutin setiap dua minggu sekali bertempat di Balai Penyuluhan Kecamatan atau tempat lain. Pelatihan ini difasilitasi oleh penyuluh pertanian yang menguasai materi, maupun tenaga ahli dari lembaga/instansi lain. 

Tujuan pelatihan dalam sistem LAKU adalah (1) Menyampaikan berbagai informasi yang berkaitan dengan pembangunan pertanian; (2) Meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan penyuluh pertanian, baik teori maupun praktek; (3) Meningkatkan kemampuan dalam menganalisis dan memecahkan masalah yang dihadapi di tingkat lapangan; dan (4) Meningkatkan kemampuan penyuluh pertanian dalam menyusun perencanaan dan melaksanakan penyuluhan pertanian. 

Sasaran pelatihan dalam sistem LAKU adalah (1) Disampaikannya berbagai informasi yang berkaitan dengan pembangunan pertanian. Penyuluh pertanian perlu menerima Informasi-informasi yang berkaitan dengan program-program Pemerintah (pusat) maupun pemerintah daerah. Selanjutnya disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan agribisnis di lapangan/petani binaannya untuk digunakan sebagai bahan menyusun programa penyuluhan di desanya; (2) Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan penyuluh pertanian, baik teori maupun praktek. Teori yang diberikan sesuai dengan kebutuhan petani yang dibina untuk pengembangan agribisnisnya dan masalah-masalah yang ditemukan di lapangan. Praktek dapat dilaksanakan di lahan/lapangan maupun di kelas. Materi praktek penyuluhan diarahkan agar peserta (penyuluh pertanian) dapat berpartisipatif aktif, praktek tidak hanya mengenai teknis budidaya saja. Materi yang dibahas dapat meliputi: simulasi, cara-cara berbicara, cara mengajar, teknis diskusi kelompok, membuat alat peraga dan sebagainya; (3) Meningkatnya kemampuan dalam menganalisis dan memecahkan permasalahan yang dihadapi di tingkat lapangan. Pemecahan masalah dapat berisi masalah teknis, sosial dan ekonomi yang dihadapi petani; dan (4) Meningkatnya kemampuan penyuluh pertanian dalam menyusun perencanaan dan melaksanakan penyuluhan pertanian. Sasaran ini dapat dicapai melalui pelatihan dengan output: (a) Rencana kegiatan penyuluhan dua minggu yang akan datang yang mengacu kepada rencana kerja penyuluh pertanian secara tertulis yang jelas dan spesifik; (b) Kesimpulan pemecahan permasalahan yang dihadapi di tingkat lapangan; (c) Petunjuk dan saran dari tingkat kabupaten. 

Materi pelatihan dalam sistem LAKU mencakup program-program pembangunan yang sedang dan akan dikembangkan daerah setempat, serta materi-materi bersifat membantu memecahkan permasalahan petani/peternak/pekebun. Sumber materi teknologi pertanian dapat bersumber dari Tabloid Sinar Tani, dipilih materi yang sekiranya dapat dikembangkan di wilayah kerja penyuluh pertanian dan materi yang dapat untuk membantu pemecahan masalah petani/peternak/pekebun setempat. Materi-materi pelatihan dirancang sampai tujuan intruksional khusus, misalnya peserta hanya pemahaman saja, peserta harus terampil, dan lain-lain. 

Prinsip-prinsip penyelenggaraan pelatihan dalam sistem LAKU adalah (1) Teratur, terarah dan berkelanjutan; (2) Topik pelatihan harus aktual, faktual dan dibutuhkan oleh petani; (3) Pembahasan materi harus mendalam; (4) Latihan mencakup teori dan praktek; (5) Latihan harus mampu memecahkan permasalahan teknis di lapangan yang sedang dihadapi petani; (6) Pelatih/fasilitator/pengajar harus menguasai materi dan metoda yang dipergunakan; (6) Pelatihan menggunakan metoda partisipatif; (7) Pelatihan dilaksanakan sesuai jadwal. 

Proses pelatihan dalam sistem LAKU sebagai berikut: (1) Diskusi umum antara penyuluh pertanian dengan petugas instansi terkait untuk memecahkan masalah lapangan. Petugas instansi terkait antara lain pengamat irigasi, pengamat OPT, petugas perbankan, petugas benih, dan lain-lain; (2) Fasilitator menyampaikan materi yang sesuai dengan kebutuhan pemecahan masalah di lapangan; (3) Apabila ada materi yang harus praktek dapat dilakukan di luar atau di dalam ruangan; (4) Evaluasi pelaksanaan rencana kerja 2 minggu yang lalu. Caranya setiap penyuluh pertanian menyampaikan laporan tentang kemajuan yang dicapai dan permasalahan di lapangan untuk dipecahkan bersama; dan (5) Menyusun rencana kerja untuk 2 minggu yang akan datang.

Sumber : SUSILO ASTUTI H. (Penyuluh Pertanian Pusluhtan) 
 http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/penyelenggaran-pelatihan-dalam-sistem-laku

Label